Sekilas Tentang Ya'juj dan Ma'juj
Saat menjelang wafat, Nabi Nuh a.s memanggil anak-anaknya untuk menghadap beliau. Maka Sam a.s segera datang menemuinya, namun kedua saudaranya tidak muncul yaitu Ham dan Yafits. Akibat dari ketidakpatuhan Ham dan Yafits, Allah kemudian menurunkan ganjaran kepada mereka. Yafits yang tidak datang karena lebih memilih berdua dengan istrinya (berhubungan suami istri) kemudian melahirkan anak bernama Sannaf. Kelak kemudian Sannaf menurunkan anak yang ganjil. Ketika dilahirkan, keluar sekaligus anak-anak dalam wujud kurang sempurna. Selain itu ukuran besar dan bobot masing-masing juga berbeda, ada yang fisiknya besar sedangkan lainnya kecil. Untuk selanjutnya yang besar kemudian terus tumbuh hingga melebihi ukuran normal (raksasa), sebaliknya yang bertubuh kecil terus kecil seperti liliput. Mereka kemudian dikenal sebagai Ya’juj dan Ma’juj.
Selain wujudnya yang ganjil, Ya’juj dan Ma’juj mempunyai nafsu makan yang melebihi normal. Padahal bilamana mereka makan tumbuhan tertentu maka tumbuhan itu akan berhenti tumbuh sampai kemudian mati. Demikian pula bila minum air dari suatu tempat maka airnya tidak akan bertambah lagi. Sehingga banyak sumber-sumber air dan sungai menjadi kering karenanya. Masyarakat di sekitar mereka pun harus menanggung dampaknya yaitu krisis pangan dan air.
Karena interaksi sosial yang tidak kondusif akibat masalah yang dibawa oleh Ya’juj dan Ma’juj ini maka mereka kemudian cenderung mengisolasi diri di suatu celah gunung di tengah-tengah komunitas induk bangsa-bangsa keturunan Yafits lainnya, yang antara lain meliputi bangsa: Armenia, Rusia/Slavia, Romawi dan Turk di wilayah-wilayah luas seputar Laut Hitam. Namun bilamana mereka membutuhkan makan dan minum, akan keluar secara serentak bersama-sama ke daerah-daerah sekitarnya yang masih belum tersentuh oleh mereka sebelumnya. Karena kondisi fisiknya, mereka mampu menempuh perjalanan jauh dalam waktu relatif lebih pendek dibandingkan oleh manusia normal. Bagi golongan raksasa karena mereka mampu melangkah dengan jangkauan lebar sedangkan golongan liliput adalah karena sedemikian ringan bobotnya terhadap gravitasi bumi sehingga bila berjalan sangat cepat seperti meluncur bersama angin.
Pada puncak keresahan masyarakat pada masa itu, Allah SWT kemudian mengutus salah satu hambaNya yang berkulit kehitaman (tetapi bukan termasuk ras negro) dengan dua benjolan kecil (tidak bertulang tanduk) di kedua sisi keningnya yang sebenarnya lebih sering tak tampak karena tertutupi oleh surbannya yaitu Nabi Dzul Qarnain a.s (QS 18:93) untuk menghadang laju Ya’juj dan Ma’juj yang telah menimbulkan kerusakan alam yang akan terus bertambah luas.
Sesuai petunjuk Allah, Nabi Dzul Qarnain a.s kemudian mengajak masyarakat di sekitar lokasi tempat tinggal Ya’juj dan Ma’juj untuk bersama-sama membuat dinding tembaga dan besi yang akan menutup satu-satunya lubang keluar masuk mereka (QS 18:96). Setelah selesai, masyarakat yang sebelumnya tinggal di dekat dinding diajak untuk meninggalkan lokasi yang sudah kering tanpa air dan tumbuhan tersebut menuju ke tempat lain yang lebih layak untuk dihuni.
Allah SWT juga mewahyukan kepada Nabi Dzul Qarnain a.s bahwa dinding itu akan terjaga dan baru akan terbuka bila saatnya tiba yaitu kelak menjelang datangnya Hari Kiamat (QS 18:98). Kemudian Allah menjadikan gaib (tidak terlihat) lokasi dinding tersebut.
Ya’juj dan Ma’juj yang telah terkurung terus berupaya membuka dinding logam tersebut dengan segala cara, bahkan dengan menjilatinya karena mereka tahu bahwa benda apapun yang mereka sentuh dengan mulutnya akan berhenti tumbuh/bertambah, kering atau tergerus. Cara ini mampu membuat bagian-bagian dinding yang mereka sentuh menjadi tipis. Namun setiap kali akan berlubang, Allah mengembalikan lagi kondisinya seperti semula. Untuk bertahan hidup selama terkurung di balik dinding, Allah menumbuhkan sejenis lumut, sebagai satu-satunya tumbuhan yang dapat terus tumbuh dan justru makin bertambah banyak setiap kali dimakan oleh masyarakat Ya’juj dan Ma’juj.
Kelak menjelang Kiamat, salah seorang pemimpin mereka mengatakan kata kunci “InsyaAllah” maka kemudian terbukalah dinding tersebut sekaligus kegaibannya dari penglihatan masyarakat luar sebelumnya. Dan Kaum Ya’juj dan Ma’juj yang selama ribuan tahun terkurung telah berkembang pesat jumlahnya akan turun bagaikan air bah (QS 21:96) memuaskan nafsu makan dan minumnya di segala tempat yang dapat mereka jangkau di bumi.
Masyarakat muslim termasuk Nabi Isa a.s yang telah terpojok di sebuah gunung (tur) lalu bersama-sama berdoa kepada Allah agar terhindar dari masalah akibat perbuatan Ya’juj dan Ma’juj. Kemudian Allah SWT memerintahkan ulat-ulat yang tiba-tiba menembus keluar dari tengkuk Ya’juj dan Ma’juj yang langsung mengakibatkan kematian mereka secara serentak.
Senin, 11 Maret 2013
Mudzakarah 6 Sifat Sahabat
Allah SWT meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat hanyalah pada agama Islam yang sempurna.
Agama Islam yang sempurna adalah agama yang dibawa oleh Rasululloh SAW. Meliputi Iman, Ibadah, Muamalah, Mu’asyarat dan Akhlaq.
Pada saat ini umat Islam tidak ada kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan agama secara sempurna.
Para sahabat RA telah sukses dan jaya dalam mengamalkan agama secara sempurna karena mereka memiliki sifat-sifat dasar yang terkandung dalam enam sifat sahabat yang meliputi:
1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah Muhammadurrasulullah”
2. Sholat khusyu’ dan khudlu’
3. Ilmu ma’adzikir
4. Ikromul Muslimin
5. Tashihun niat
6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah.
Enam sifat sahabat RA tersebut bukan merupakan wujud agama yang sempurna, karena agama yang sempurna terkandung dalam Al Qur’an dan Al Hadits, tetapi apabila enam sifat para sahabat tersebut ada dalam diri kita maka Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkan agama secara sempurna.
1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah“.
Arti : Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt. Dan Baginda Muhammad Saw. Adalah utusan Allah.
Maksud Laa ilaha illallah:
Mengeluarkan keyakinan pada mahluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah Swt. Di dalam hati.
Fadhilah :
1. Barang siapa yang mati sedangkan dia yakin tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt., maka dijamin masuk surga.
2. Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan hatinya membenarkan lisannya, maka dipersilahkan masuk surga dari pintu mana yang dia suka.
3. Sekecil-kecil iman dalam hati maka akan Allah berikan surga yang luasnya 10 kali dunia.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya iman yakin.
2. Latihan dengan cara memperbanyak halaqoh-halaqoh / majlis iman yakin (bicara atau dengar).
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat iman dan yakin.
Maksud Muhammadarrasulullah
Meyakini hanya satu-satunya jalan untuk mencapai kejayaan dunia dan akherat hanya dengan cara ikut sunnah Rasulullah Saw.
Fadhilah :
1. Rasulullah Saw. bersabda, Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Aku (Muhammad) sebagai utusan Allah.
2. Rasulullah Saw. bersabda barang siapa yang berpegang teguh dengan sunnahku dikala rusaknya ummatku maka baginya pahala 100 orang mati syahid.
3. Rasulullah Saw. Bersabda barang siapa menghidupkan sunnahku sungguh dia cinta padaku, dan barangsiapa yang cinta padaku maka akan bersamaku didalam surga.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya menghidupkan sunnah Rasulullah Saw.
2. Latihan , yaitu dengan cara menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. Dalam kehidupan kita selama 24 jam.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menghidupkan sunnah.
2. Sholat khusyu’ dan khudlu’
Arti : Shalat dengan konsentrasi batin dan merendahkan diri dengan mengikut cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Maksud Shalat Khusu dan Khudu:
Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah Swt didalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
2. Allah berfirman : Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat.
3. Rasulullah Saw. Bersabda : shalat adalah milahnya orang beriman.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya shalat
2. Latihan dengan cara :
a. Memperbaiki dhahirnya shalat.
b. Menghadirkan keagungan Allah
c. Belajar menyelesaikan masalah dengan shalat
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat shalat khusyu dan khudu.
3. Ilmu ma’adzikir
Arti Ilmu : Semua petunjuk yang dating dari Allah Swt melalui Baginda Rasulullah Saw.
Arti Dzikir: Mengingat Allah sebagaimana agungnya Allah.
Maksud Ilmu ma’adzikir
Mengamalkan perintah Allah Swt. Pada setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan keagungan Allah didalam hati dan ikut cara Rasulullah Saw.
Fadhilah Ilmu:
1. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka akan Allah fahamkan dirinya pada masalah agama.
2. Barangsiapa berjalan mencari ilmu maka akan Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.
3. Barangsiapa mempelajari satu ayat Al Quran maka nilainya adalah lebih baik daripada shalat sunnah 100 rakaat. Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu maka lebih baik nilainya daripada shalat sunnah 1000 rakaat.
Fadhilah Dzikir:
1. Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dibandingkan dengan orang yang mati.
2. Allah berfirman : Dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.
3. Allah berfirman : Ingatlah pada Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu.
Cara mendapatkan ilmu fadhail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu fadhail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh fadhail di masjid dan di rumah.
b. Ajak manusia untuk duduk dalam halaqoh fadhail
c. Hadirkan fadhail dalam setiap amalan .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu fadhail.
Cara mendapatkan ilmu masail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu masail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh masail dengan para alim ulama.
b. Bertanya kepada ulama baik untuk masalah agama maupun dunia.
c. Sering berziarah kepada para alim ulama .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu masail.
Cara mendapatkan dzikir :
1. Dakwahkan pentingnya dzikir kepada Allah Swt.
2. Latihan dengan cara :
a. Setiap hari membaca Al Quran (usahakan 1 juz).
b. Membaca tasbihat, shalawat dan istigfar masing-masing 100 X.
Ketika membaca tasbihat maka hadirkan kemahasucian Allah
Ketika membaca shalawat maka ingat jasa-jasa Rasulullah kepada kita.
Ketika membaca istigfar maka hadirkan sifat Maha Pengampunnya Allah.
c. Amalkan doa-doa masnunah (harian) .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dzikir.
4. Ikromul Muslimin
Arti : Memuliakan sesama orang islam / muslim.
Maksud ikramul muslimin
Menunaikan hak-hak semua orang islam tanpa meminta hak daripadanya.
Fadhilah :
1. Allah akan menolong seorang hamba selagi dia menolong saudaranya.
2. Barang siapa menutup aib saudaranya yang muslim maka Allah akan menutup aibnya dan barang siapa membuka aib saudaranya yang muslim maka Allah akan membuka aibnya sampai dia akan dipermalukan di rumahnya sendiri.
3. Senyummu didepan saudaramu adalah sedekah.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikram
2. Latihan dengan cara :
a. Memberi salam kepada orang yang kita kenal ataupun yang tidak kita kenal.
b. Menyayangi yang muda, menghormati yang tua, memuliakan uloama dan menghormati sesama.
c. Berbaur dengan semua orang yang berbeda-beda wataknya.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan ahlaq sebagaimana ahlaq Baginda Rasulullah Saw.
5. Tashihun niat
Arti : Membetulkan / meluruskan niat
Maksud tashihun niat :
Membersihkan niat pada setiap amalan semata-mata karena Allah Swt.
Fadhilah :
1. Sesungguhnya Allahtidak akan menerima amalan seseorang kecuali dengan ikhlas.
2. Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupamu dan hartamu tetapi Dia akan memandang pada hatimu dan amalanmu.
3. Baginda Rasulullah Saw. Bersabda : Wahai Muadz jagalah keihklasan karena amal yang ikhlas walau sedikit akan mencukupi.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikhlas.
2. Latihan dengan cara : setiap beramal periksa niat kita, sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal, bersihkan niat agar semata-mata hanya karena Allah.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ikhlas dalam beramal.
6. Da’wah dan Tabligh Khuruj fi Sabilillah
Arti: Dakwah mengajak, Tabligh menyampaikan dan khuruj fisabilillah adalah keluar di jalan Allah.
Maksud :
1. Memperbaiki diri, yaitu bagaimana agar dapat menggunakan harta diri dan waktu sebagaimana yang diperintahkan Allah.
2. Menghidupkan agama secara sempurna pada diri sendiri dan semua manusia diseluruh alam dengan menggunakan harta dan diri sendiri.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : dan adakah yang perkataannya lebih baik daripada seseorang yang mengajak manusia kepada Allah.
2. Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk kebaikan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkan.
3. Sepagi sepetang dijalan Allah lebih baik daripada mendapatkan dunia dan seisinya.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya dakwah dan tabligh.
2. Latihan dengan cara : keluar dijalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 h setiap tahun, 3h setiap bulan dan 2,5 jam setiap hari. Tingkatkan dengan cara bertahap-tahap menjadi 4 bl tiap tahun, 10h tiap bulan dan 8 jam setiap hari.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dakwah dan tabligh yaitu dapat menggunakan harta, diri dan waktu untuk kepentingan agama.
Allah SWT meletakkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat hanyalah pada agama Islam yang sempurna.
Agama Islam yang sempurna adalah agama yang dibawa oleh Rasululloh SAW. Meliputi Iman, Ibadah, Muamalah, Mu’asyarat dan Akhlaq.
Pada saat ini umat Islam tidak ada kekuatan dan kemampuan untuk mengamalkan agama secara sempurna.
Para sahabat RA telah sukses dan jaya dalam mengamalkan agama secara sempurna karena mereka memiliki sifat-sifat dasar yang terkandung dalam enam sifat sahabat yang meliputi:
1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah Muhammadurrasulullah”
2. Sholat khusyu’ dan khudlu’
3. Ilmu ma’adzikir
4. Ikromul Muslimin
5. Tashihun niat
6. Da’wah dan tabligh khuruj fi sabilillah.
Enam sifat sahabat RA tersebut bukan merupakan wujud agama yang sempurna, karena agama yang sempurna terkandung dalam Al Qur’an dan Al Hadits, tetapi apabila enam sifat para sahabat tersebut ada dalam diri kita maka Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkan agama secara sempurna.
1. Yakin atas kalimah thoyyibah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah“.
Arti : Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt. Dan Baginda Muhammad Saw. Adalah utusan Allah.
Maksud Laa ilaha illallah:
Mengeluarkan keyakinan pada mahluk dari dalam hati dan memasukkan keyakinan hanya kepada Allah Swt. Di dalam hati.
Fadhilah :
1. Barang siapa yang mati sedangkan dia yakin tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt., maka dijamin masuk surga.
2. Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan hatinya membenarkan lisannya, maka dipersilahkan masuk surga dari pintu mana yang dia suka.
3. Sekecil-kecil iman dalam hati maka akan Allah berikan surga yang luasnya 10 kali dunia.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya iman yakin.
2. Latihan dengan cara memperbanyak halaqoh-halaqoh / majlis iman yakin (bicara atau dengar).
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat iman dan yakin.
Maksud Muhammadarrasulullah
Meyakini hanya satu-satunya jalan untuk mencapai kejayaan dunia dan akherat hanya dengan cara ikut sunnah Rasulullah Saw.
Fadhilah :
1. Rasulullah Saw. bersabda, Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Aku (Muhammad) sebagai utusan Allah.
2. Rasulullah Saw. bersabda barang siapa yang berpegang teguh dengan sunnahku dikala rusaknya ummatku maka baginya pahala 100 orang mati syahid.
3. Rasulullah Saw. Bersabda barang siapa menghidupkan sunnahku sungguh dia cinta padaku, dan barangsiapa yang cinta padaku maka akan bersamaku didalam surga.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya menghidupkan sunnah Rasulullah Saw.
2. Latihan , yaitu dengan cara menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. Dalam kehidupan kita selama 24 jam.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menghidupkan sunnah.
2. Sholat khusyu’ dan khudlu’
Arti : Shalat dengan konsentrasi batin dan merendahkan diri dengan mengikut cara yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Maksud Shalat Khusu dan Khudu:
Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah Swt didalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
2. Allah berfirman : Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan shalat.
3. Rasulullah Saw. Bersabda : shalat adalah milahnya orang beriman.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya shalat
2. Latihan dengan cara :
a. Memperbaiki dhahirnya shalat.
b. Menghadirkan keagungan Allah
c. Belajar menyelesaikan masalah dengan shalat
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat shalat khusyu dan khudu.
3. Ilmu ma’adzikir
Arti Ilmu : Semua petunjuk yang dating dari Allah Swt melalui Baginda Rasulullah Saw.
Arti Dzikir: Mengingat Allah sebagaimana agungnya Allah.
Maksud Ilmu ma’adzikir
Mengamalkan perintah Allah Swt. Pada setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan keagungan Allah didalam hati dan ikut cara Rasulullah Saw.
Fadhilah Ilmu:
1. Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka akan Allah fahamkan dirinya pada masalah agama.
2. Barangsiapa berjalan mencari ilmu maka akan Allah mudahkan untuknya jalan menuju surga.
3. Barangsiapa mempelajari satu ayat Al Quran maka nilainya adalah lebih baik daripada shalat sunnah 100 rakaat. Barangsiapa mempelajari satu bab dari ilmu maka lebih baik nilainya daripada shalat sunnah 1000 rakaat.
Fadhilah Dzikir:
1. Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dibandingkan dengan orang yang mati.
2. Allah berfirman : Dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.
3. Allah berfirman : Ingatlah pada Ku niscaya Aku akan ingat kepadamu.
Cara mendapatkan ilmu fadhail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu fadhail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh fadhail di masjid dan di rumah.
b. Ajak manusia untuk duduk dalam halaqoh fadhail
c. Hadirkan fadhail dalam setiap amalan .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu fadhail.
Cara mendapatkan ilmu masail :
1. Dakwahkan pentingnya ilmu masail
2. Latihan dengan cara :
a. Duduk dalam halaqoh masail dengan para alim ulama.
b. Bertanya kepada ulama baik untuk masalah agama maupun dunia.
c. Sering berziarah kepada para alim ulama .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ilmu masail.
Cara mendapatkan dzikir :
1. Dakwahkan pentingnya dzikir kepada Allah Swt.
2. Latihan dengan cara :
a. Setiap hari membaca Al Quran (usahakan 1 juz).
b. Membaca tasbihat, shalawat dan istigfar masing-masing 100 X.
Ketika membaca tasbihat maka hadirkan kemahasucian Allah
Ketika membaca shalawat maka ingat jasa-jasa Rasulullah kepada kita.
Ketika membaca istigfar maka hadirkan sifat Maha Pengampunnya Allah.
c. Amalkan doa-doa masnunah (harian) .
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dzikir.
4. Ikromul Muslimin
Arti : Memuliakan sesama orang islam / muslim.
Maksud ikramul muslimin
Menunaikan hak-hak semua orang islam tanpa meminta hak daripadanya.
Fadhilah :
1. Allah akan menolong seorang hamba selagi dia menolong saudaranya.
2. Barang siapa menutup aib saudaranya yang muslim maka Allah akan menutup aibnya dan barang siapa membuka aib saudaranya yang muslim maka Allah akan membuka aibnya sampai dia akan dipermalukan di rumahnya sendiri.
3. Senyummu didepan saudaramu adalah sedekah.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikram
2. Latihan dengan cara :
a. Memberi salam kepada orang yang kita kenal ataupun yang tidak kita kenal.
b. Menyayangi yang muda, menghormati yang tua, memuliakan uloama dan menghormati sesama.
c. Berbaur dengan semua orang yang berbeda-beda wataknya.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan ahlaq sebagaimana ahlaq Baginda Rasulullah Saw.
5. Tashihun niat
Arti : Membetulkan / meluruskan niat
Maksud tashihun niat :
Membersihkan niat pada setiap amalan semata-mata karena Allah Swt.
Fadhilah :
1. Sesungguhnya Allahtidak akan menerima amalan seseorang kecuali dengan ikhlas.
2. Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupamu dan hartamu tetapi Dia akan memandang pada hatimu dan amalanmu.
3. Baginda Rasulullah Saw. Bersabda : Wahai Muadz jagalah keihklasan karena amal yang ikhlas walau sedikit akan mencukupi.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya ikhlas.
2. Latihan dengan cara : setiap beramal periksa niat kita, sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal, bersihkan niat agar semata-mata hanya karena Allah.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat ikhlas dalam beramal.
6. Da’wah dan Tabligh Khuruj fi Sabilillah
Arti: Dakwah mengajak, Tabligh menyampaikan dan khuruj fisabilillah adalah keluar di jalan Allah.
Maksud :
1. Memperbaiki diri, yaitu bagaimana agar dapat menggunakan harta diri dan waktu sebagaimana yang diperintahkan Allah.
2. Menghidupkan agama secara sempurna pada diri sendiri dan semua manusia diseluruh alam dengan menggunakan harta dan diri sendiri.
Fadhilah :
1. Allah berfirman : dan adakah yang perkataannya lebih baik daripada seseorang yang mengajak manusia kepada Allah.
2. Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk kebaikan dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkan.
3. Sepagi sepetang dijalan Allah lebih baik daripada mendapatkan dunia dan seisinya.
Cara mendapatkan :
1. Dakwahkan pentingnya dakwah dan tabligh.
2. Latihan dengan cara : keluar dijalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40 h setiap tahun, 3h setiap bulan dan 2,5 jam setiap hari. Tingkatkan dengan cara bertahap-tahap menjadi 4 bl tiap tahun, 10h tiap bulan dan 8 jam setiap hari.
3. Berdoa kepada Allah agar diberikan hakekat dakwah dan tabligh yaitu dapat menggunakan harta, diri dan waktu untuk kepentingan agama.
MUDZAKARAH NAFI ISBAT
MUDZAKARAH NAFI ISBAT
MUDZAKARAH NAFI ISBAT
Sesungguhnya :
1. Mahluk tidak dapat memberi manfaat dan mudhorrot, yang dapat memberi manfaat dan mudhorrot hanya Allah.
2. Mahluk dapat memberi manfaat dan mudhorrot berhajat kepada Allah.
3. Allah dapat memberi manfaat dan mudhorrot tidak berhajat pada mahluk.
4. Kalau Allah berkehendak mahluk dapat memberi manfaat dan mudhorrot dan kalau Allah berkehendak tanpa mahluk Allah dapat memberi manfaat dan mudhorrot.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Obat tidak dapat menyembuhkan yang dapat menyembuhkan hanya Allah.
2. Obat menyembuhkan butuh bantuan Allah.
3. Allah dapat menyembuhkan tidak butuh pada mahluk.
4. Kalau Allah berkehendak dengan obat penyakit dapat disembuhlkan dan jika Allah berkehendak tanpa obat penyakit dapat disembuhkan.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Api tidak dapat membakar, yang dapat membakar hanya Allah.
2. Api dapat membakar berhajat kepada Allah
3. Allah membakar tidak berhajat pada api
4. Kalau Allah berkehendak dengan api dapat membakar dan jika Allah berkehendak tanpa api dapat membakar.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Senjata tidak dapat melukai, yang dapat melukai hanya Allah.
2. Senjata dapat melukai berhajat kepada Allah
3. Allah dapat melukai tidak berhajat kepada senjata
4. Kalau Allah berkehendak tanpa senjata dapat melukai dan kalau Allah berkehendak tanpa senjata dapat melukai.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Pekerjaan tidak dapat mendatangkan rizki, yang mendatangkan rizki hanya Allah.
2. Pekerjaan bisa mendatangkan rizki berhajat kepada Allah
3. Allah mendatangkan rizki tidak berhajat kepada pekerjaan.
4. Jika Allah berkehendak dengan pekerjaan rizki dapat datang dan jika Allah berkehendak tanpa pekerjaan rezeki dapat datang.
" لاإله إلا الله"
MUDZAKARAH NAFI ISBAT
Sesungguhnya :
1. Mahluk tidak dapat memberi manfaat dan mudhorrot, yang dapat memberi manfaat dan mudhorrot hanya Allah.
2. Mahluk dapat memberi manfaat dan mudhorrot berhajat kepada Allah.
3. Allah dapat memberi manfaat dan mudhorrot tidak berhajat pada mahluk.
4. Kalau Allah berkehendak mahluk dapat memberi manfaat dan mudhorrot dan kalau Allah berkehendak tanpa mahluk Allah dapat memberi manfaat dan mudhorrot.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Obat tidak dapat menyembuhkan yang dapat menyembuhkan hanya Allah.
2. Obat menyembuhkan butuh bantuan Allah.
3. Allah dapat menyembuhkan tidak butuh pada mahluk.
4. Kalau Allah berkehendak dengan obat penyakit dapat disembuhlkan dan jika Allah berkehendak tanpa obat penyakit dapat disembuhkan.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Api tidak dapat membakar, yang dapat membakar hanya Allah.
2. Api dapat membakar berhajat kepada Allah
3. Allah membakar tidak berhajat pada api
4. Kalau Allah berkehendak dengan api dapat membakar dan jika Allah berkehendak tanpa api dapat membakar.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Senjata tidak dapat melukai, yang dapat melukai hanya Allah.
2. Senjata dapat melukai berhajat kepada Allah
3. Allah dapat melukai tidak berhajat kepada senjata
4. Kalau Allah berkehendak tanpa senjata dapat melukai dan kalau Allah berkehendak tanpa senjata dapat melukai.
" لاإله إلا الله"
Sesungguhnya :
1. Pekerjaan tidak dapat mendatangkan rizki, yang mendatangkan rizki hanya Allah.
2. Pekerjaan bisa mendatangkan rizki berhajat kepada Allah
3. Allah mendatangkan rizki tidak berhajat kepada pekerjaan.
4. Jika Allah berkehendak dengan pekerjaan rizki dapat datang dan jika Allah berkehendak tanpa pekerjaan rezeki dapat datang.
" لاإله إلا الله"
Sabtu, 02 Maret 2013
Cara Pelaksanaan Do’a dan Dzikir
Cara Pelaksanaan Do’a dan Dzikir
A. Mengangkat Kedua Tangan
Pembahasan Pertama
Yang Disyariatkan Berkaitan Dengan Keadaan Pemohon Dalam Mengangkat Kedua Tangannya Untuk Berdo’a
Terdapat beberapa hadits mutawatir yang bersifat maknawi dalam berbagai kejadian yang berbeda-beda, yang di dalamnya disebutkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengangkat kedua tangannya sewaktu berdo`a. Di antaranya, pada enam tempat saat beribadah haji, yaitu: pada waktu berada di bukit Shafa dan bukit Marwah, di padang Arafah, di Muzdalifah, pada waktu melempar Jumrah pertama dan jumrah kedua. Adapun pada selain haji, terdapat pada shalat Istisqa`, qunut Nazilah dalam shalat-shalat fardhu, dan di dalam berbagai kejadian lainnya yang jumlahnya sekitar lima puluh tempat yang kesemuanya telah ditulis buku khusus tentang hal tersebut.
Hukum mengangkat kedua tangan
Mengangkat kedua tangan termasuk adab-adab dan sunnah do`a menurut kesepakatan kaum muslimin (ijma’), kecuali di dalam satu keadaan, yaitu waktu khutbah Jum’at. Di dalam khutbah Jum’at ini dimakruhkan bagi khatib dan para jamaah mengangkat kedua tangannya pada saat berdo`a, selama khatib tidak membaca do`a istisqa’ di dalam khutbahnya itu. Sebaliknya disunnahkan baginya beserta para jamaah untuk mengangkat kedua tangannya sewaktu membaca do`a istisqa`, setelah itu meninggalkannya.
Tata cara mengangkat kedua tangan
Pemohon mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, atau hampir setingginya, sambil mengumpulkan kedua tangannya tersebut dengan tidak renggang, dan dengan telapak tangan membentang menghadap ke langit, sedang punggungnya di bawah. Jika mau, dia bisa mendekatkan kedua tangannya ke arah muka hingga mukanya tertutup, sedangkan bagian punggungnya menghadap ke arah kiblat. Di samping itu, dianjurkan pula agar kedua tangan tersebut dalam keadan suci, bersih, terbuka dan tidak terhalangi oleh suatu tabir.
Cara pelaksanaannya ada tiga
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu diriwayatkan, bahwasanya Rasulullah radhiyallahu 'anhu bersabda,
اْلمَسْأَلَةُ أَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ أَوْ نَحْوَهُمَا، وَاْلاِسْتِغْفَارُ أَنْ تُشِيْرَ بِأَصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَاْلاِبْتِهَالُ أَنْ تُمِدَّ يَدَيْكَ جَمِيْعًا.
“Permintaan adalah kamu mengangkat kedua tanganmu setinggi kedua pundakmu atau setera dengannya, sedang istighfar adalah dengan mengacungkan satu jari, dan ibtihal (do`a pengaduan) adalah dengan menengadahkan kedua tangan.” (HR. Abu Daud dan ath-Thabrani di dalam kitabnya ‘ad-Du’a’, dan hadits ini mempunyai jalur-jalur sanad lain, yang kesemuanya dihukumi shahih).
Terdapat beberapa hadits berkaitan dengan perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan tentang posisi bagi masing-masing dari ketiga sifat ini, bukan karena ketiganya lebih sebagai perbedaan variabel semata (ikhtilaf tanawwu’). Maka dari itu, perhatikanlah baik-baik! Adapun penjelasan rincinya adalah sebagai berikut:
Posisi (maqam) pertama adalah posisi do`a umum yang disebut dengan ‘permintaan’ atau ‘do`a’, yaitu: mengangkat kedua tangan setinggi kedua pundak, atau setara dengannya, sambil menggandengkan keduanya, menengadahkannya ke langit (atas) sedangkan kedua punggung tangan itu menghadap tanah. Jika mau, dia boleh menutupi mukanya dengan keduanya, sedang bagian punggungnya menghadap ke arah kiblat.
Ini adalah bentuk umum mengangkat kedua tangan sewaktu berdo`a secara mutlak, di dalam qunut witir, istisqa`, atau pada enam tempat pada waktu ibadah haji, dan lain-lain.
Posisi kedua, istighfar, yang disebut dengan ‘ikhlas’, yaitu: mengacungkan jari telunjuk tangan kanan.
Bentuk ini khusus pada waktu dzikir dan do`a sewaktu berkhutbah di atas mimbar (hari Jum`at), waktu tasyahhud di dalam shalat, dan sewaktu membaca dzikir, pujian dan tahlil di luar shalat.
Dan kepada sifat atau bentuk inilah di dalam posisi ini, sifat kedua yang tersebut di dalam hadits Ibnu Abbas terdahulu di arahkan, sebagaimana tersebut di dalam hadits Imarah bin Ruaibah, bahwasanya Basyar bin Marwan berada di atas mimbar sambil mengangkat kedua tangannya. Maka Imarah berkata, “Semoga Allah ta’ala menghinakan kedua tangan orang ini. Sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak lebih untuk mengucapkan dengan tangannya begini.” Sambil mengisyaratkan kepada jari telunjuknya.” (HR. Muslim).
Sedangkan hadits-hadits tentang mengangkat (mengacungkan) jari pada waktu tasyahhud di dalam shalat dan di luarnya itu sangat masyhur.
Posisi atau bentuk ketiga adalah ibtihal, yaitu: merendahkan diri dan sangat bersungguh-sungguh meminta kepada Allah ta’ala, dan ini disebut juga dengan ‘du’a ar-rahb’ (do`a kecemasan). Bentuknya adalah mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya hingga putih ketiak terlihat. Dan dikatakan pula: sampai terlihat kedua lengan atas. Maksudnya, keduanya terangkat karena sangat-sangat tinggi.
Bentuk atau cara seperti ini lebih khusus daripada kedua bentuk terdahulu, pertama dan kedua. Ini dilakukan khusus pada waktu atau dalam keadaan susah dan rasa takut, seperti pada kondisi paceklik, dikuasai musuh, dan keadaan-keadaan mencekam lainnya yang serupa dengannya. Dan kepada sifat inilah, kedua hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu diarahkan. Kedua hadits tersebut adalah:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِيْ شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي اْلاِسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ.
“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam setiap do`anya, kecuali pada waktu istisqa`, dan bahwasanya beliau mengangkat (kedua tangannya) hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” (HR. al-Bukhari).
Maksudnya, beliau tidak mengangkat kedua tangannya secara berlebihan dan memohon dengan sangat, kecuali pada waktu merasa cemas, yaitu sewaktu kondisi kekeringan di dalam shalat minta hujan (istisqa`). Hal itu, tidak berarti beliau ingin menafikan adanya mengangkat kedua tangan dalam kondisi lainnya, mengingat terdapat pula hadits-hadits mutawatir tentang mengangkat kedua tangan sewaktu meminta dan berdo`a di dalam periwayatan sejumlah sahabat. Maka, yang dinafikan di dalam keadaan ini, adalah bentuk selain yang dijelaskan tadi.
Hadits lainnya:
أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ.
“Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memohon hujan, lalu beliau menunjuk dengan kedua punggung tangannya mengahadap ke arah langit.” (HR. Muslim).
Maksudnya, karena beliau sangat tinggi mengangkat tangannya hingga seolah kedua punggung tangannya menghadap ke arah langit. Dan tafsiran inilah yang membuat hadits ini bertemu (atau tidak berseberangan) dengan seluruh hadits tentang ‘mengangkat tangan’ yang menjelaskan untuk menjadikan telapak tangan menghadap ke arah langit, dan dengan hadits Malik bin Yasar radhiyallahu 'anhu yang berbunyi:
إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِبُطُوْنِ أَكْفَافِكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوْهُ بِظُهُوْرِهَا.
“Jika kalian meminta kepada Allah ta’ala, maka mintalah kepada-Nya dengan telapak tangan kalian, dan janganlah kalian meminta kepada-Nya dengan punggungnya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Saya tidak menemukan orang yang menguraikan masalah ini (yaitu: menghadapkan punggung tangan ke arah langit) dengan tafsiran semacam ini, selain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang telah dinukil oleh al-Murdawi rahimahullah di dalam ‘al-Inshaf’ (1/458), ketika menyebutkan pendapat madzhab (Ahmad bin Hanbal), yaitu dengan menjadikan punggung kedua tangan ke arah langit di dalam do`a istisqa`, karena hal itu sebagai do`a dalam keadaan rasa takut, dan bahwa implisit dari perkataan kebanyakan pengikut madzhab (Hanbali) adalah bahwa do`a istisqa` adalah seperti yang lainnya, yaitu menengadahkan telapak tangan ke arah langit. Di sini, al-Murdawi berkata, “Taqiyuddin (Ibnu Taimiyah) memilih pendapat ini (menengadahkan telapak tangan ke arah langit), dan dia berkata, “Punggung tangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke arah langit karena diangkat sangat tinggi, bukan karena disengaja, sedangkan ketika beliau menengadahkan tangannya ke atas, itu dilakukan dengan disengaja. Dan kalau beliau melakukan itu dengan sengaja, maka tentunya pada tempat lainnya lebih utama dan masyhur. Ibnu Taimiyah berkata, ‘Tidak seorang pun yang berpendapat mengangkat kedua tangan di dalam do`a qunut, yang mengatakan bahwa berdo`a qunut itu dengan punggung tangan, tapi justru dengan menengadahkan telapak tangan’.”
Ini adalah nukilan yang sangat berharga yang menguraikan permasalahan yang nampak bertentangan, padahal sebenarnya tidak. Oleh karenanya, sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjadi saling terpadu secara zahir dan batin. Alhamdulillah.
[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhih ad-Du’a`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]
A. Mengangkat Kedua Tangan
Pembahasan Pertama
Yang Disyariatkan Berkaitan Dengan Keadaan Pemohon Dalam Mengangkat Kedua Tangannya Untuk Berdo’a
Terdapat beberapa hadits mutawatir yang bersifat maknawi dalam berbagai kejadian yang berbeda-beda, yang di dalamnya disebutkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengangkat kedua tangannya sewaktu berdo`a. Di antaranya, pada enam tempat saat beribadah haji, yaitu: pada waktu berada di bukit Shafa dan bukit Marwah, di padang Arafah, di Muzdalifah, pada waktu melempar Jumrah pertama dan jumrah kedua. Adapun pada selain haji, terdapat pada shalat Istisqa`, qunut Nazilah dalam shalat-shalat fardhu, dan di dalam berbagai kejadian lainnya yang jumlahnya sekitar lima puluh tempat yang kesemuanya telah ditulis buku khusus tentang hal tersebut.
Hukum mengangkat kedua tangan
Mengangkat kedua tangan termasuk adab-adab dan sunnah do`a menurut kesepakatan kaum muslimin (ijma’), kecuali di dalam satu keadaan, yaitu waktu khutbah Jum’at. Di dalam khutbah Jum’at ini dimakruhkan bagi khatib dan para jamaah mengangkat kedua tangannya pada saat berdo`a, selama khatib tidak membaca do`a istisqa’ di dalam khutbahnya itu. Sebaliknya disunnahkan baginya beserta para jamaah untuk mengangkat kedua tangannya sewaktu membaca do`a istisqa`, setelah itu meninggalkannya.
Tata cara mengangkat kedua tangan
Pemohon mengangkat kedua tangannya setinggi kedua pundaknya, atau hampir setingginya, sambil mengumpulkan kedua tangannya tersebut dengan tidak renggang, dan dengan telapak tangan membentang menghadap ke langit, sedang punggungnya di bawah. Jika mau, dia bisa mendekatkan kedua tangannya ke arah muka hingga mukanya tertutup, sedangkan bagian punggungnya menghadap ke arah kiblat. Di samping itu, dianjurkan pula agar kedua tangan tersebut dalam keadan suci, bersih, terbuka dan tidak terhalangi oleh suatu tabir.
Cara pelaksanaannya ada tiga
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu diriwayatkan, bahwasanya Rasulullah radhiyallahu 'anhu bersabda,
اْلمَسْأَلَةُ أَنْ تَرْفَعَ يَدَيْكَ حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ أَوْ نَحْوَهُمَا، وَاْلاِسْتِغْفَارُ أَنْ تُشِيْرَ بِأَصْبُعٍ وَاحِدَةٍ، وَاْلاِبْتِهَالُ أَنْ تُمِدَّ يَدَيْكَ جَمِيْعًا.
“Permintaan adalah kamu mengangkat kedua tanganmu setinggi kedua pundakmu atau setera dengannya, sedang istighfar adalah dengan mengacungkan satu jari, dan ibtihal (do`a pengaduan) adalah dengan menengadahkan kedua tangan.” (HR. Abu Daud dan ath-Thabrani di dalam kitabnya ‘ad-Du’a’, dan hadits ini mempunyai jalur-jalur sanad lain, yang kesemuanya dihukumi shahih).
Terdapat beberapa hadits berkaitan dengan perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan tentang posisi bagi masing-masing dari ketiga sifat ini, bukan karena ketiganya lebih sebagai perbedaan variabel semata (ikhtilaf tanawwu’). Maka dari itu, perhatikanlah baik-baik! Adapun penjelasan rincinya adalah sebagai berikut:
Posisi (maqam) pertama adalah posisi do`a umum yang disebut dengan ‘permintaan’ atau ‘do`a’, yaitu: mengangkat kedua tangan setinggi kedua pundak, atau setara dengannya, sambil menggandengkan keduanya, menengadahkannya ke langit (atas) sedangkan kedua punggung tangan itu menghadap tanah. Jika mau, dia boleh menutupi mukanya dengan keduanya, sedang bagian punggungnya menghadap ke arah kiblat.
Ini adalah bentuk umum mengangkat kedua tangan sewaktu berdo`a secara mutlak, di dalam qunut witir, istisqa`, atau pada enam tempat pada waktu ibadah haji, dan lain-lain.
Posisi kedua, istighfar, yang disebut dengan ‘ikhlas’, yaitu: mengacungkan jari telunjuk tangan kanan.
Bentuk ini khusus pada waktu dzikir dan do`a sewaktu berkhutbah di atas mimbar (hari Jum`at), waktu tasyahhud di dalam shalat, dan sewaktu membaca dzikir, pujian dan tahlil di luar shalat.
Dan kepada sifat atau bentuk inilah di dalam posisi ini, sifat kedua yang tersebut di dalam hadits Ibnu Abbas terdahulu di arahkan, sebagaimana tersebut di dalam hadits Imarah bin Ruaibah, bahwasanya Basyar bin Marwan berada di atas mimbar sambil mengangkat kedua tangannya. Maka Imarah berkata, “Semoga Allah ta’ala menghinakan kedua tangan orang ini. Sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak lebih untuk mengucapkan dengan tangannya begini.” Sambil mengisyaratkan kepada jari telunjuknya.” (HR. Muslim).
Sedangkan hadits-hadits tentang mengangkat (mengacungkan) jari pada waktu tasyahhud di dalam shalat dan di luarnya itu sangat masyhur.
Posisi atau bentuk ketiga adalah ibtihal, yaitu: merendahkan diri dan sangat bersungguh-sungguh meminta kepada Allah ta’ala, dan ini disebut juga dengan ‘du’a ar-rahb’ (do`a kecemasan). Bentuknya adalah mengangkat kedua tangan setinggi-tingginya hingga putih ketiak terlihat. Dan dikatakan pula: sampai terlihat kedua lengan atas. Maksudnya, keduanya terangkat karena sangat-sangat tinggi.
Bentuk atau cara seperti ini lebih khusus daripada kedua bentuk terdahulu, pertama dan kedua. Ini dilakukan khusus pada waktu atau dalam keadaan susah dan rasa takut, seperti pada kondisi paceklik, dikuasai musuh, dan keadaan-keadaan mencekam lainnya yang serupa dengannya. Dan kepada sifat inilah, kedua hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu diarahkan. Kedua hadits tersebut adalah:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِيْ شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلاَّ فِي اْلاِسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ.
“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengangkat kedua tangannya dalam setiap do`anya, kecuali pada waktu istisqa`, dan bahwasanya beliau mengangkat (kedua tangannya) hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” (HR. al-Bukhari).
Maksudnya, beliau tidak mengangkat kedua tangannya secara berlebihan dan memohon dengan sangat, kecuali pada waktu merasa cemas, yaitu sewaktu kondisi kekeringan di dalam shalat minta hujan (istisqa`). Hal itu, tidak berarti beliau ingin menafikan adanya mengangkat kedua tangan dalam kondisi lainnya, mengingat terdapat pula hadits-hadits mutawatir tentang mengangkat kedua tangan sewaktu meminta dan berdo`a di dalam periwayatan sejumlah sahabat. Maka, yang dinafikan di dalam keadaan ini, adalah bentuk selain yang dijelaskan tadi.
Hadits lainnya:
أَنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ.
“Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memohon hujan, lalu beliau menunjuk dengan kedua punggung tangannya mengahadap ke arah langit.” (HR. Muslim).
Maksudnya, karena beliau sangat tinggi mengangkat tangannya hingga seolah kedua punggung tangannya menghadap ke arah langit. Dan tafsiran inilah yang membuat hadits ini bertemu (atau tidak berseberangan) dengan seluruh hadits tentang ‘mengangkat tangan’ yang menjelaskan untuk menjadikan telapak tangan menghadap ke arah langit, dan dengan hadits Malik bin Yasar radhiyallahu 'anhu yang berbunyi:
إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِبُطُوْنِ أَكْفَافِكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوْهُ بِظُهُوْرِهَا.
“Jika kalian meminta kepada Allah ta’ala, maka mintalah kepada-Nya dengan telapak tangan kalian, dan janganlah kalian meminta kepada-Nya dengan punggungnya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Saya tidak menemukan orang yang menguraikan masalah ini (yaitu: menghadapkan punggung tangan ke arah langit) dengan tafsiran semacam ini, selain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang telah dinukil oleh al-Murdawi rahimahullah di dalam ‘al-Inshaf’ (1/458), ketika menyebutkan pendapat madzhab (Ahmad bin Hanbal), yaitu dengan menjadikan punggung kedua tangan ke arah langit di dalam do`a istisqa`, karena hal itu sebagai do`a dalam keadaan rasa takut, dan bahwa implisit dari perkataan kebanyakan pengikut madzhab (Hanbali) adalah bahwa do`a istisqa` adalah seperti yang lainnya, yaitu menengadahkan telapak tangan ke arah langit. Di sini, al-Murdawi berkata, “Taqiyuddin (Ibnu Taimiyah) memilih pendapat ini (menengadahkan telapak tangan ke arah langit), dan dia berkata, “Punggung tangan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke arah langit karena diangkat sangat tinggi, bukan karena disengaja, sedangkan ketika beliau menengadahkan tangannya ke atas, itu dilakukan dengan disengaja. Dan kalau beliau melakukan itu dengan sengaja, maka tentunya pada tempat lainnya lebih utama dan masyhur. Ibnu Taimiyah berkata, ‘Tidak seorang pun yang berpendapat mengangkat kedua tangan di dalam do`a qunut, yang mengatakan bahwa berdo`a qunut itu dengan punggung tangan, tapi justru dengan menengadahkan telapak tangan’.”
Ini adalah nukilan yang sangat berharga yang menguraikan permasalahan yang nampak bertentangan, padahal sebenarnya tidak. Oleh karenanya, sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjadi saling terpadu secara zahir dan batin. Alhamdulillah.
[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhih ad-Du’a`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]
Doa Apabila Ada Angin Kencang / Angin Ribut
Hadirilah !!! Kajian Bulanan : Ahad 17 Februari 2013 : Prinsip Pokok Ajaran Al-Qur`an :: Hadirilah !!! Tabligh Akbar : Ahad 10 Februari 2013: Etika Berbisnis dalam Islam ::
Doa Apabila Ada Angin Kencang / Angin Ribut
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin ini, dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya.”
HR. Abu Dawud 4/326, Ibnu Majah 2/1228, dan lihatlah kitab Shahih Ibnu Majah 2/305
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ.
“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan angin (ribut ini), kebaikan apa yang di dalamnya dan kebaikan tujuan angin dihembuskan. Aku berlindung kepadaMu dari keja-hatan angin ini, kejahatan apa yang di dalamnya dan kejahatan tujuan angin dihembuskan.” HR. Muslim 2/616 dan Al-Bukhari 4/76.
Do’a Ketika Ziarah Kubur
Do’a Ketika Ziarah Kubur
Kamis, 03 Februari 05
َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَاللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.
Assalamu’alaikum ahladdiyaari minal mu’miniina wal muslimiina, wa inna insyaa Alloohu bikum laahiquuna wa yarhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriina as alullooha lanaa walakumul ‘aafiyata.
“Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami Insya Alloh akan menyusul, ( semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada orang-orang yang (telah meninggal) terlebih dahulu diantara kami dan orang-orang yang akan datang)
Kamis, 03 Februari 05
َالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَاللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.
Assalamu’alaikum ahladdiyaari minal mu’miniina wal muslimiina, wa inna insyaa Alloohu bikum laahiquuna wa yarhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriina as alullooha lanaa walakumul ‘aafiyata.
“Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami Insya Alloh akan menyusul, ( semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat kepada orang-orang yang (telah meninggal) terlebih dahulu diantara kami dan orang-orang yang akan datang)
Bacaan Sujud Tilawah, Sujud Sahwi dan Sujud Syukur.
Bacaan Sujud Tilawah, Sujud Sahwi dan Sujud Syukur.
SUJUD TILAWAH
Sujud tilawah yaitu sujud karena membaca atau mendengar ayat-ayat Al-Qur’an tertentu, yakni yang dinamakan ayat-ayat sajadah. Bacaan sujud tilawah
:سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ“
Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.”
Artinya:”Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.”
SUJUD SAHWI
Sujud sahwi yaitu sujud yang dilakukan orang yang shalat, sebanyak dua kali untuk menutup kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat, baik kekurangan raka’at, kelebihan raka’at, atau karena ragu-ragu yang disebabkan karena lupa.
Bacaan sujud sahwi
:سبحان الذي لا ينام ولا يسهو”
Subhaa nalladzi laa yanaa mu wa laa yas hu”
Artinya:“Maha Suci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa.”
SUJUD SYUKUR
Sujud syukur yaitu sujud yang dilakukan karena kita menerima kenikmatan atau mendengar berita yang menggembirakan. Bacaan sujud syukur
:سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي حَقَّا حَقَّا، سَجَدْتُ لَكَ يَارَبِّ تَعَبُّدًا وَرِقًّا. اَللَّهُمَّ اِنَّ عَمَلِي ضَعِيْفٌ فَضَاعِفْ لِي. اَللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تُبْعَثُ عِبَادُكَ وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.”
Subhânakallâhumma Anta Rabbî haq-qan haqqâ, sajadtu laka yâ Rabbî ta-’abbudan wa riqqâ. Allâhumma inna ‘amalî dha’îfun fadha’i lî. Allâhumma qinî ‘adzâbaka yawma tub’atsu ‘ibâduka wa tub ‘alayya innaka Antat tawwâbur Rahîm.”
Artinya:”Maha Suci Engkau. Ya Allah, Engkaulah Tuhaku yang sebenarnya, aku sujud kepada-Mu ya Rabbi sebagai pengabdian dan penghambaan. Ya Allah, sungguh amalku lemah, maka lipat gandakan pahalanya bagiku. Ya Allah, selamatkan aku dari siksa-Mu pada hari hamba-hamba-Mu dibangkitkan, terimalah taubatku, sesunguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.”
SUJUD TILAWAH
Sujud tilawah yaitu sujud karena membaca atau mendengar ayat-ayat Al-Qur’an tertentu, yakni yang dinamakan ayat-ayat sajadah. Bacaan sujud tilawah
:سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ“
Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.”
Artinya:”Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta.”
SUJUD SAHWI
Sujud sahwi yaitu sujud yang dilakukan orang yang shalat, sebanyak dua kali untuk menutup kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan shalat, baik kekurangan raka’at, kelebihan raka’at, atau karena ragu-ragu yang disebabkan karena lupa.
Bacaan sujud sahwi
:سبحان الذي لا ينام ولا يسهو”
Subhaa nalladzi laa yanaa mu wa laa yas hu”
Artinya:“Maha Suci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa.”
SUJUD SYUKUR
Sujud syukur yaitu sujud yang dilakukan karena kita menerima kenikmatan atau mendengar berita yang menggembirakan. Bacaan sujud syukur
:سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبِّي حَقَّا حَقَّا، سَجَدْتُ لَكَ يَارَبِّ تَعَبُّدًا وَرِقًّا. اَللَّهُمَّ اِنَّ عَمَلِي ضَعِيْفٌ فَضَاعِفْ لِي. اَللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تُبْعَثُ عِبَادُكَ وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.”
Subhânakallâhumma Anta Rabbî haq-qan haqqâ, sajadtu laka yâ Rabbî ta-’abbudan wa riqqâ. Allâhumma inna ‘amalî dha’îfun fadha’i lî. Allâhumma qinî ‘adzâbaka yawma tub’atsu ‘ibâduka wa tub ‘alayya innaka Antat tawwâbur Rahîm.”
Artinya:”Maha Suci Engkau. Ya Allah, Engkaulah Tuhaku yang sebenarnya, aku sujud kepada-Mu ya Rabbi sebagai pengabdian dan penghambaan. Ya Allah, sungguh amalku lemah, maka lipat gandakan pahalanya bagiku. Ya Allah, selamatkan aku dari siksa-Mu pada hari hamba-hamba-Mu dibangkitkan, terimalah taubatku, sesunguhnya Engkau Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.”
Langganan:
Postingan (Atom)